Ini menarik nih. Kalau diperhatikan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering sekali menemui kenikmatan-kenikmatan yang kecil dan sederhana. Sedikit diantaranya dirangkum dalam 50 simple pleasures ini. Nikmat Tuhan memang sungguh berlimpah. #0
Ah leganya, akhirnya bisa update blog lagi.
Tidak terasa sudah 1.5 bulan saja saya tinggal di Perth. Status sementara masih bujang lokal, karena anak-anak dan istri saya masih di Balikpapan dan masih dalam rangka menunggu pengurusan visa selesai. Doakan semoga mereka cepat menyusul saya di sini.
Alhamdulillah, sekarang saya sudah tinggal di apartment yang cukup nyaman dan lokasinya menurut saya cukup strategis karena dekat dengan berbagai macam fasilitas kota dan pusat pertokoan. Nama suburb-nya Subiaco. Untuk waktu setahun, rasanya apartment ini sudah lebih dari cukup buat saya dan keluarga.
Ukurannya tidak terlalu luas walaupun ada 2 tingkat. Di tingkat atas ada 2 kamar tidur yang masing-masing ada kamar mandinya. Sedangkan di lantai bawah ada ruang keluarga, ruang makan dan dapur.
Saya dan istri memang sepakat untuk mencari tempat tinggal yang tidak terlalu besar agar lebih mudah merawat dan membersihkannya. Apalagi istri saya harus mengurusi dua anak kami yang masih sangat kecil, si Luna dan si Bima.
Hmm, apa lagi ya?
Oiya, untuk ke kantor, saya biasanya naik sepeda atau sesekali menikmati fasilitas train atau kereta listrik yang nyaman. Kebetulan stasiun keretanya hanya berjarak kurang dari 500 meter dari apartment kami. Tapi belakangan ini saya lebih sering menunggang kereta angin alias sepeda, karena di kota ini fasilitas untuk para cyclist sudah cukup bagus. Pemerintah kota Perth sudah banyak membangun jalur-jalur khusus untuk sepeda sehingga para warganya bisa merasa lebih aman dan nyaman dalam bersepeda.
Kalau untuk makan, sekarang saya lebih sering memasak. Iya, sejak di sini saya harus bisa memasak sendiri demi menghemat pengeluaran karena harga makanan di rumah makan atau restoran di sini cukup mahal. Dan alhamdulillah sekarang saya sudah tahu tempat yang menjual daging-daging halal dan toko kelontong yang menjual bahan-bahan masakan Indonesia.
Apa lagi ya?…Banyak yang bisa diceritakan tentang bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari di sini. Tapi rasanya lebih bagus kalau dicicil ya.
Ini menarik nih. Kalau diperhatikan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering sekali menemui kenikmatan-kenikmatan yang kecil dan sederhana. Sedikit diantaranya dirangkum dalam 50 simple pleasures ini. Nikmat Tuhan memang sungguh berlimpah. #0
Kalau tidak ada halangan dan perubahan rencana, saya mesti pindah dari Pekanbaru – kota yang sudah saya tinggali selama 2 tahun terakhir – ke kota lain. Akhir bulan ini, saya sudah sudah harus berada di tempat yang baru. Yah, namanya juga ‘prajurit’, jadi harus siap ditempatkan di mana saja dan kapan saja.
Berdekatan waktunya dengan kepindahan tugas saya ini, insya Allah istri saya akan melahirkan anak kedua kami minggu depan. Karena satu dan lain hal, kami memutuskan untuk menjadikan Balikpapan sebagai kota kelahiran anak kedua kami tersebut. Dan sekarang, saya adalah seorang bujangan lokal yang sedang kebingungan harus memulai dari mana untuk membereskan dan mengepak barang-barang di rumah.
Walaupun mungkin barang-barang di rumah saya tidak banyak, tapi ya namanya sebuah rumah tangga tetap saja isinya bermacam-macam dan banyak printilan-nya. Barang-barang yang ada di kamar tidur dan ruang tengah saja sudah cukup bikin saya senewen. Belum lagi peralatan makan dan perkakas dapur yang lumayan banyak jumlahnya. Duh.
Perusahaan sih nantinya akan menyediakan layanan packing dan moving terhadap barang-barang saya. Tapi, sedikit banyak saya juga harus mulai memilih dan memilah barang-barang tersebut, karena ada barang-barang yang memang perlu dikirim ke tempat yang baru, ada barang yang masih bagus tapi tidak perlu dibawa dan mungkin bisa disumbangkan, serta ada barang-barang yang bisa dibuang.
Memulai mengurangi kelebihan barang-barang kita di rumah memang terasa agak susah. Apalagi kalau kita belum pernah mencobanya sama sekali. Tapi, tak ada salahnya mencoba kok. Dan mungkin daftar 101 barang/benda yang bisa kurangi di rumah kita ini bisa membantu. #0
Bagaimana sih cara yang jitu untuk membuat rumah dan barang-barang kita menjadi lebih rapi dan tertata? Mungkin 15 tips dari Zen Habits ini bisa memberikan inspirasi buat kita. #0
Sudah tahu dong sama yang namanya Pareto Principle, atau lebih dikenal juga sebagai 80/20 rule. Menurut teori ini, sekitar 80% dari keluaran itu dihasilkan dari 20% masukannya. 80% akibat itu dihasilkan oleh 20% sebab. Atau bisa juga dikatakan bahwa 80% hasil itu datang dari 20% usaha.
Dalam skala global juga ditemukan bahwa 20% orang terkaya di muka bumi ini menguasai 80% dari total kekayaan seluruh manusia di dunia. Dalam buku The 4-Hour Workweek karya Tim Ferris yang baru saya baca, prinsip 80/20 ini juga diterapkan oleh sang penulis dalam menghadapi klien-kliennya. Tim menyarankan agar kita fokus saja terhadap 20% klien atau pelanggan yang berkontribusi terhadap 80% income atau pendapatan kita. Bahkan lebih jauh lagi, Tim juga menyarankan agar kita fokus terhadap 20% orang-orang di sekitar kita yang memberikan 80% pengaruh positif bagi kehidupan kita.
Nah, kalau kita tarik ke dalam kehidupan kita sehari-hari, bisakah prinsip Pareto ini berlaku?
Apakah benar 20% dari tumpukan tugas-tugas atau pekerjaan kita yang paling esensial dan penting menghasilkan 80% dari total produktivitas kita di kantor? Cobalah mulai dengan mengindetifikasi tugas-tugas yang kita hadapi di kantor dan fokuslah terhadap tugas-tugas yang kira-kira akan menghasilkan output yang signifikan terhadap tim ataupun perusahaan.
Apa saja keuntungannya kalau kita menjalani gaya hidup minimalis? Beberapa di antaranya bisa ditemukan pada daftar benefits of minimalism ini. #0
Saya sedang mencoba memulai bentuk olahraga minimalis yang lainnya selain jogging atau berlari, yaitu pushup. Artikel the art of the pushup ini cukup bermanfaat untuk memotivasi diri saya agar segera memulainya. #1
Selamat hari pendidikan nasional!
Waduh, pagi ini saya semangat sekali ya. Mungkin karena tadi malam tidurnya cukup nyenyak sehingga bangunnya pun agak terlambat dan tidak jadi lari pagi. Tapi, salah satu goal saya untuk bangun pagi sebelum azan subuh selama 30 hari berturut-turut jadi reset to zero lagi deh.
Tapi tak mengapa, saya tetap optimis goal tersebut bakal tercapai kok. Lagi pula, alhamdulillah selama sebulan kemarin saya berhasil merampungkan goal-goal lain dan itu benar-benar membawa pengaruh positif bagi diri saya sendiri. Dan mudah-mudahan karena semuanya saya tulis di blog ini, pengaruh positif juga dirasakan oleh yang rajin membaca blog ini. Hehehe….
Goal pertama yang berhasil saya capai di bulan April adalah membaca 3 buah buku per bulan selama 2 bulan berturut-turut, yang saya canangkan di akhir bulan Februari. Tujuan goal ini adalah membangkitkan kebiasaan membaca buku-buku bermutu dan bermanfaat bagi saya pribadi. Sebagian buku yang sudah selesai dibaca biasanya saya tulis review-nya di blog ini dengan harapan saya bisa mengajak siapapun untuk membacanya juga.
Goal berikutnya adalah membuat posting minimal 3 buah per minggu selama 2 bulan berturut-turut. Alhamdulillah sejak blog ini pertama kali mengudara pada pertengahan bulan Februari 2010 yang lalu, saya selalu punya bahan untuk ditulis di blog ini. Tujuan goal ini adalah untuk merangsang diri saya sendiri agar selalu berpikir dan mencari inspirasi untuk menuliskan sesuatu yang bermanfaat buat diri saya sendiri dan orang lain.
Sebuah artikel yang bagus dari Leo Babauta, judulnya The Element of Living Lightly. Pesannya: stop judging, stop expecting. #0
Software atau aplikasi perangkat lunak di komputer tak perlu kompleks untuk memudahkan hidup kita. Aplikasi yang simpel, sederhana dan minimalis seringkali lebih dibutuhkan. Silakan mencoba kumpulan aplikasi yang simpel ini. #0
Anda seorang introvert? Saya merasa diri saya juga introvert. Kalau begitu, mari kita simak the introvert's guide to people ini, supaya bisa lebih gaul dikit gitu loh. :) #1
Mau fokus terhadap satu tugas saja dalam sehari? OneThingToday, sebuah aplikasi yang dibuat untuk Mac akan membantu kita fokus terhadap satu tugas saja setiap hari. Simpel dan elegan. #0
Tak terasa sudah sebulan sejak saya memulai kebiasaan baru saya untuk jogging – atau lebih tepatnya berlari – setiap 1 atau 2 hari sekali. Pemicunya adalah tingkat kolesterol saya yang cukup tinggi, sehingga dokter menganjurkan saya untuk rutin berolahraga. Karena, sebelumnya saya tak pernah berolahraga secara rutin, maka saya pilih olahraga lari saja karena menurut saya olahraga ini yang paling simpel, murah, dan bisa dilakukan kapan saja.
Beberapa cara saya lakukan supaya habit untuk rutin ber-jogging atau berlari ini bisa terbentuk, termasuk di antaranya membuat sebuah goal di mana saya harus bisa lari non-stop sejauh 5 kilometer sebelum tanggal 1 Mei ini (lihat di daftar goal). Alhamdulillah, kemarin saya mampu menjalaninya.
Tapi sebenarnya bukan goal itu yang menjadi tujuan utama saya. Goal hanyalah sebuah alat, di samping itu ada beberapa keuntungan yang saya dapatkan setelah berlari rutin selama sebulan terakhir ini:
Think on your feet. Ada 4 alasan mengapa kita lebih baik bekerja sambil berdiri. Berani mencoba? :D #0
you need less than you think. Kalau direnungkan, memang benar ya bahwa banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan tapi sekarang telah menjadi suatu kebutuhan. #0
Saya sedang berada di ruang tunggu bandara Soekarno – Hatta ketika menemukan alamat blog ini ditulis dalam sebuah artikel di detikInet pada hari Selasa, 27 April 2010 yang lalu. Ternyata eh ternyata blog ini terpilih sebagai pemenang blog award untuk minggu kelima bulan April 2010 (Bronze) dari Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2010.
Saya sih agak kaget dan enggak nyangka kalau blog ini bisa terpilih soalnya selain usianya baru kurang dari 2 bulan, isinya juga sangat sederhana. Tapi, kayaknya sih gara-gara isinya yang simpel atau sederhana itu, para penilai dari ISBA malah memilih blog ini.
Ini kutipan keterangan dari berita di detikInet tentang blog ini:
Hidup akan memusingkan apabila dijalani dengan cara yang ruwet. Sebuah persoalan yang sebenarnya sederhana bisa menjadi berlarut-larut jika manusia memilih jalan yang rumit untuk menyelesaikannya. Sementara yang berpikir sederhana justru lebih cepat memecahkan masalah. Ide tersebut tampaknya yang diusung oleh penulis blog fisto.riza.me. Blog yang dari tagline-nya saja, yakni ‘My Simplified Life’, sudah berusaha untuk mengajak pembacanya untuk melihat persoalan dalam hidup dengan lebih simpel dan tentu saja menyelesaikannya dengan lebih sederhana pula. Kesederhanaan blog ini juga tampak dari layoutnya yang putih bersih dengan font warna hitam sehingga membuat nyaman orang yang membacanya. Tapi bukan cuma itu, isi dari blog ini juga bernas dan bisa menginspirasi pembacanya untuk membuat hidup lebih mudah dan berarti.
Buat saya, adanya recognition ini membuat saya senang karena berarti blog ini ternyata ada manfaatnya buat orang lain. Yah, mudah-mudahan memang seperti itu adanya.
Terima kasih buat team Internet Sehat dan keep up the good work, guys!
Beberapa waktu yang lalu, saya jadi sering memaki. Bukan kepada seseorang atau keadaan. Yang saya maki itu adalah sebuah benda bernama iPad. Gara-gara benda yang satu ini, saya harus bersusah payah mengendalikan diri supaya tidak menjadi impulsif untuk lantas membelinya walaupun uang di kantong sangatlah minim.
Sudah tahu kan apa dan bagaimana bentuk si iPad ini? Banyak kalangan menyebutnya sebagai sebuah gadget yang merevolusi dunia perkomputeran saat ini. Hehehe…terdengar bombastis ya. Entah benar atau tidak ungkapan itu, yang jelas iPad memang menggiurkan sekali untuk saya. Apalagi saya adalah pengguna dan penggemar produk-produk keluaran Apple.
Saya menggunakan sebuah MacBook untuk mengetik posting ini, sebuah iPhone bekas yang saya pakai setiap hari dan ada sebuah iPod Classic 120GB yang sering menemani saya kalau sedang berpergian. Maka kehadiran iPad terasa sungguh sempurna untuk melengkapi ketiga gadget yang sudah saya sebut sebelumnya.
Nafsu untuk memiliki iPad ini sangat besar walaupun sebenarnya dana untuk membelinya nyaris tak ada. Hampir setiap hari, sejak kemunculannya beberapa bulan yang lalu, saya rajin membaca artikel dan review tentang iPad di internet. Makin banyak yang dibaca, makin besar keinginan saya untuk membelinya. Maka, bulatlah tekad saya untuk mendapatkan barang edan ini begitu tersedia di pasar (bukan yang resmi tentunya, karena saya belum tahu kapan iPad akan dijual resmi di Indonesia).
Lalu pada suatu hari sekitar sebulan yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari Leo Babauta tentang 30-day list ini dan saya coba menerapkannya untuk mengatasi keinginan saya dalam membeli iPad ini.
Pasti sudah banyak yang pernah mendengar atau membaca parabel (kisah) tentang Seorang Nelayan dari Meksiko dan Seorang Bankir ini. Saya ingin menulisnya lagi dalam blog ini dan mudah-mudahan kita bisa mengambil pesan moral yang terkandung dalam kisah tersebut.
Kira-kira ceritanya begini:
Pada suatu sore, seorang bankir muda lulusan MBA yang sedang berlibur di sebuah desa pantai kecil di Meksiko bertemu dengan seorang nelayan yang baru saja menyandarkan perahu kecilnya di sebuah dermaga. Di dalam perahu tersebut ada beberapa ikan segar hasil tangkapan si nelayan.
Si bankir terkesan setelah melihat ikan-ikan hasil tangkapan si nelayan. Ia pun bertanya, “Pak, berapa lama Bapak melaut sampai bisa mendapatkan ikan-ikan segar seperti itu?”
“Oh, tak terlalu lama kok. Sekitar 1 – 2 jam saja, senor”, jawab si nelayan. “Lho, kok Bapak enggak melaut lebih lama lagi supaya bisa menangkap ikan segar lebih banyak?”, si bankir bertanya lagi.
“Wah, ikan segini banyak sih sudah cukup buat menghidupi keluarga saya, senor”, terang si nelayan.
“Lalu, apa yang Bapak kerjakan setelah pulang melaut? Apa ada pekerjaan yang lain?”, tanya si bankir.
Si nelayan menjawab, “Setiap hari saya bangun agak siang, kemudian melaut sebentar seperti sekarang ini. Lalu saya bercengkerama dengan anak-anak dan istri saya. Sorenya, saya biasanya nongkrong di sebuah warung di desa kami ini untuk menikmati minuman dan bermain gitar dengan teman-teman saya. Begitu terus hidup saya, senor. Selalu ada saja kegiatannya.”
Tiba-tiba si bankir berkata dengan penuh semangat, “Pak, saya adalah seorang lulusan MBA yang cemerlang dan sekarang sudah menjadi seorang bankir yang sangat sukses. Saya bisa membantu Bapak mencari jalan supaya kehidupan Bapak bisa lebih baik”.
“Oh ya? Maksudnya bagaimana, senor?”, tanya si nelayan sambil melepas topi anyaman bambunya.
“Begini, pak. Bapak semestinya bisa melaut lebih lama lagi supaya mendapatkan ikan yang lebih banyak untuk dijual. Dari hasil penjualan ikan tersebut, Bapak bisa membeli perahu yang lebih besar dan menangkap ikan yang jauh lebih banyak lagi. Lama kelamaan Bapak akan mampu membeli beberapa perahu besar. Bayangkan, berapa banyak ikan lagi yang bisa ditangkap.”
Si nelayan mengangguk-angguk sambil mencoba membayangkan apa yang baru saja diterangkan oleh si bankir.
“Nah, kalau sudah mempunyai armada penangkapan ikan yang besar seperti itu, Bapak tidak usah menjualnya ke tengkulak-tengkulak di pasar itu. Bapak bisa langsung menjual ke kota, atau bahkan Bapak bisa membuat pabrik pengalengan ikan sendiri. Semuanya Bapak sendiri yang mengendalikan: mulai dari produksi, pemrosesan sampai dengan distribusi”
“Hmm, iya ya. Lalu setelah itu bagaimana lagi, senor?”, si nelayan mulai penasaran dengan penjelasan si bankir.
“Lama-lama, Bapak bisa pindah dari desa ini ke Mexico City supaya perusahaan Bapak nanti bisa lebih maju”
“Hmm, berapa lama kira-kira bisa sampai seperti itu, senor?”
“Ya kira-kira 15 – 20 tahun, pak”
“Lalu, setelah itu apa lagi, senor?”
Si bankir tertawa kecil dan berkata, “Nah ini bagian yang paling bagus, pak. Ketika perusahaan Bapak sudah makin besar, maka Bapak bisa menawarkan perusahaan Bapak ke pasar saham. Nanti perusahaan Bapak akan menjadi perusahaan terbuka dan jutaan peso akan mengalir ke kantong Bapak!”
“Jutaan peso? Lalu, setelah itu saya bisa apa lagi, senor?”
Si bankir pun menjawab, “Ya setelah itu Bapak bisa pensiun. Bapak bisa pindah ke sebuah desa, di mana nanti Bapak bisa hidup dengan tenang dan santai, bisa bangun agak siang. Bisa bercengkerama dengan anak dan istri setiap hari. Nongkrong di warung setiap sore untuk minum-minum dan bermain gitar dengan teman-teman Bapak.”
Si nelayan pun hanya tersenyum lebar mendengar penjelasan si bankir tadi.
Kemarin, sembari membersihkan dan merapikan kantor, saya membayangkan seandainya hidup saya ini makin tidak tergantung dengan kertas dan tidak diborbamdir dengan berbagai macam surat atau dokumen atau majalah yang terus berdatangan. Setelah hari demi hari berlalu, pada akhirnya mereka hanya menjadi tumpukan kertas yang berdebu dan teronggok di pojok ruangan nyaris tak pernah tersentuh lagi.
Rasanya di jaman yang serba digital ini pilihan untuk makin mengurangi ketergantungan terhadap kertas adalah sesuatu yang harus mulai dipraktekkan. Selain (katanya) turut andil dalam melestarikan lingkungan, pengurangan penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari akan membuat kantor atau rumah kita lebih rapi, dan bahkan bisa membuat hidup ini sedikit lebih bahagia lho. Enggak percaya? Coba deh pandangi tumpukan kertas maupun kertas-kertas yang berserakan di sekitar kita. Pasti bikin stress, kan?
Kira-kira hal konkret apa saja yang bisa kita lakukan untuk mulai mengurangi ketergantungan kita terhadap penggunaan kertas? Saya coba tulis beberapa yang ada di pikiran saya: