Beberapa waktu yang lalu, saya jadi sering memaki. Bukan kepada seseorang atau keadaan. Yang saya maki itu adalah sebuah benda bernama iPad. Gara-gara benda yang satu ini, saya harus bersusah payah mengendalikan diri supaya tidak menjadi impulsif untuk lantas membelinya walaupun uang di kantong sangatlah minim.
Sudah tahu kan apa dan bagaimana bentuk si iPad ini? Banyak kalangan menyebutnya sebagai sebuah gadget yang merevolusi dunia perkomputeran saat ini. Heheheā¦terdengar bombastis ya. Entah benar atau tidak ungkapan itu, yang jelas iPad memang menggiurkan sekali untuk saya. Apalagi saya adalah pengguna dan penggemar produk-produk keluaran Apple.
Saya menggunakan sebuah MacBook untuk mengetik posting ini, sebuah iPhone bekas yang saya pakai setiap hari dan ada sebuah iPod Classic 120GB yang sering menemani saya kalau sedang berpergian. Maka kehadiran iPad terasa sungguh sempurna untuk melengkapi ketiga gadget yang sudah saya sebut sebelumnya.
Nafsu untuk memiliki iPad ini sangat besar walaupun sebenarnya dana untuk membelinya nyaris tak ada. Hampir setiap hari, sejak kemunculannya beberapa bulan yang lalu, saya rajin membaca artikel dan review tentang iPad di internet. Makin banyak yang dibaca, makin besar keinginan saya untuk membelinya. Maka, bulatlah tekad saya untuk mendapatkan barang edan ini begitu tersedia di pasar (bukan yang resmi tentunya, karena saya belum tahu kapan iPad akan dijual resmi di Indonesia).
Lalu pada suatu hari sekitar sebulan yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari Leo Babauta tentang 30-day list iniĀ dan saya coba menerapkannya untuk mengatasi keinginan saya dalam membeli iPad ini.
Cara menerapkan 30-day list ini adalah dengan menuliskan suatu barang yang ingin kita beli ke dalam sebuah daftar disertai dengan tanggal saat kita menuliskannya. Nah, selama 30 hari setelah barang tersebut masuk dalam 30-day list tadi, kita harus menahan diri untuk tidak membelinya. Nanti setelah melewati 30 hari tersebut, kita bisa berpikir lagi apakah memang barang tersebut pantas dibeli atau tidak. Tak jarang, sebelum jatuh pada hari ke-30, nafsu kita untuk membeli suatu barang sudah kendor dan akhirnya barang tersebut pun tak jadi terbeli.
Sifat barang yang bisa kita masukkan dalam 30-day list ini adalah yang nice-to-have saja, bukan barang-barang kebutuhan (necessity) yang memang kita perlukan. Salah satu contohnya ya iPad itu tadi.
Selama iPad ini masuk dalam 30-day list saya, saya jadi bisa merasakan bahwa dengan apa yang sudah saya punya, semua kebutuhan saya untuk berinternet dan berkomunikasi sudah terpenuhi. Saya juga berpikir bahwa toh iPad ini masih generasi pertama, jadi saya berasumsi mestinya masih banyak kekurangan yang masih bisa disempurnakan melalui generasi iPad yang berikutnya. Lalu, kenapa tak menunggu nanti-nanti sajalah untuk membeli iPad ini.
Saat tiba hari ke-30, tekad saya sudah bulat untuk tidak membeli iPad saat ini.
Contoh lain dari saya adalah ketika saya ingin membeli sebuah celana jins. Saya hanya punya satu buah celana jins dengan sedikit bagian yang terkoyak di bagian lutut. Tapi karena saya pikir toh saya masih punya beberapa celana panjang yang lain, saya putuskan untuk memasukkan celana jins baru dalam 30-day list.
Ternyata, setelah 30 hari berlalu, saya merasa bahwa saya memang butuh celana jins yang baru karena lubang menganga di bagian lutut celana jins saya yang lama makin parah. Padahal, untuk kegiatan di luar kantor saya lebih nyaman memakai celana jins. Maka, saya putuskan untuk membeli sebuah celana jins yang baru.
Yah, seperti itulah kira-kira penggunaan 30-day list. Efektivitasnya tergantung dari masing-masing individu dalam memegang komitmen untuk mengikuti ‘aturan main’ cara ini. Namun sebagai salah satu cara untuk meredam sifat konsumtif kita, saya pikir cara ini pantas dicoba. Apalagi buat orang yang cenderung impulsif seperti saya.
Thumbnail diambil dari sini.
Related posts:
kalo saya biasanya dalam hal membeli pakaian (baju, celana, dsb suka dinanti2 yang akhirnya malah ga jadi beli) walaupun ga pake list begitu sih hehe… tp bener juga bro, dengan mencoba menunda2 lama2 keliatan kalo sebenernya barang2 itu cuma nafsu sesa-at
sudahlah, segera aja beli, kalau ngga mau pakai, saya siap menerima hibahhhh ;D
btw selamat atas blog awardnya, hebat sekali, blog baru langsung dapat award
oiya…selamat dulu bwt awardnya…^^
trik yang bagus untuk dicoba….apalagi buat cewe yg ga bisa nahan nafsu shopping berlebih…
terima kasih infonya kang… sangat inspiratif,
@ojat…nafsu sesaat memang menyesatkan…hahaha
@jarwadi…thanks kang…kayaknya belom mau beli sampe taun depan deh…
@azure…thanks, mudah2an emang efektif
@saka….terima kasih juga…
kadang tdk sama , antara keinginan utk membeli dgn kebutuhan ya Mas Fisto
salam hangat utk keluarga
semoga selalu sehat
salam