Beberapa waktu yang lalu, saya jadi sering memaki. Bukan kepada seseorang atau keadaan. Yang saya maki itu adalah sebuah benda bernama iPad. Gara-gara benda yang satu ini, saya harus bersusah payah mengendalikan diri supaya tidak menjadi impulsif untuk lantas membelinya walaupun uang di kantong sangatlah minim.
Sudah tahu kan apa dan bagaimana bentuk si iPad ini? Banyak kalangan menyebutnya sebagai sebuah gadget yang merevolusi dunia perkomputeran saat ini. Hehehe…terdengar bombastis ya. Entah benar atau tidak ungkapan itu, yang jelas iPad memang menggiurkan sekali untuk saya. Apalagi saya adalah pengguna dan penggemar produk-produk keluaran Apple.
Saya menggunakan sebuah MacBook untuk mengetik posting ini, sebuah iPhone bekas yang saya pakai setiap hari dan ada sebuah iPod Classic 120GB yang sering menemani saya kalau sedang berpergian. Maka kehadiran iPad terasa sungguh sempurna untuk melengkapi ketiga gadget yang sudah saya sebut sebelumnya.
Nafsu untuk memiliki iPad ini sangat besar walaupun sebenarnya dana untuk membelinya nyaris tak ada. Hampir setiap hari, sejak kemunculannya beberapa bulan yang lalu, saya rajin membaca artikel dan review tentang iPad di internet. Makin banyak yang dibaca, makin besar keinginan saya untuk membelinya. Maka, bulatlah tekad saya untuk mendapatkan barang edan ini begitu tersedia di pasar (bukan yang resmi tentunya, karena saya belum tahu kapan iPad akan dijual resmi di Indonesia).
Lalu pada suatu hari sekitar sebulan yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari Leo Babauta tentang 30-day list ini dan saya coba menerapkannya untuk mengatasi keinginan saya dalam membeli iPad ini.
Pasti sudah banyak yang pernah mendengar atau membaca parabel (kisah) tentang Seorang Nelayan dari Meksiko dan Seorang Bankir ini. Saya ingin menulisnya lagi dalam blog ini dan mudah-mudahan kita bisa mengambil pesan moral yang terkandung dalam kisah tersebut.
Kira-kira ceritanya begini:
Pada suatu sore, seorang bankir muda lulusan MBA yang sedang berlibur di sebuah desa pantai kecil di Meksiko bertemu dengan seorang nelayan yang baru saja menyandarkan perahu kecilnya di sebuah dermaga. Di dalam perahu tersebut ada beberapa ikan segar hasil tangkapan si nelayan.
Si bankir terkesan setelah melihat ikan-ikan hasil tangkapan si nelayan. Ia pun bertanya, “Pak, berapa lama Bapak melaut sampai bisa mendapatkan ikan-ikan segar seperti itu?”
“Oh, tak terlalu lama kok. Sekitar 1 – 2 jam saja, senor”, jawab si nelayan. “Lho, kok Bapak enggak melaut lebih lama lagi supaya bisa menangkap ikan segar lebih banyak?”, si bankir bertanya lagi.
“Wah, ikan segini banyak sih sudah cukup buat menghidupi keluarga saya, senor”, terang si nelayan.
“Lalu, apa yang Bapak kerjakan setelah pulang melaut? Apa ada pekerjaan yang lain?”, tanya si bankir.
Si nelayan menjawab, “Setiap hari saya bangun agak siang, kemudian melaut sebentar seperti sekarang ini. Lalu saya bercengkerama dengan anak-anak dan istri saya. Sorenya, saya biasanya nongkrong di sebuah warung di desa kami ini untuk menikmati minuman dan bermain gitar dengan teman-teman saya. Begitu terus hidup saya, senor. Selalu ada saja kegiatannya.”
Tiba-tiba si bankir berkata dengan penuh semangat, “Pak, saya adalah seorang lulusan MBA yang cemerlang dan sekarang sudah menjadi seorang bankir yang sangat sukses. Saya bisa membantu Bapak mencari jalan supaya kehidupan Bapak bisa lebih baik”.
“Oh ya? Maksudnya bagaimana, senor?”, tanya si nelayan sambil melepas topi anyaman bambunya.
“Begini, pak. Bapak semestinya bisa melaut lebih lama lagi supaya mendapatkan ikan yang lebih banyak untuk dijual. Dari hasil penjualan ikan tersebut, Bapak bisa membeli perahu yang lebih besar dan menangkap ikan yang jauh lebih banyak lagi. Lama kelamaan Bapak akan mampu membeli beberapa perahu besar. Bayangkan, berapa banyak ikan lagi yang bisa ditangkap.”
Si nelayan mengangguk-angguk sambil mencoba membayangkan apa yang baru saja diterangkan oleh si bankir.
“Nah, kalau sudah mempunyai armada penangkapan ikan yang besar seperti itu, Bapak tidak usah menjualnya ke tengkulak-tengkulak di pasar itu. Bapak bisa langsung menjual ke kota, atau bahkan Bapak bisa membuat pabrik pengalengan ikan sendiri. Semuanya Bapak sendiri yang mengendalikan: mulai dari produksi, pemrosesan sampai dengan distribusi”
“Hmm, iya ya. Lalu setelah itu bagaimana lagi, senor?”, si nelayan mulai penasaran dengan penjelasan si bankir.
“Lama-lama, Bapak bisa pindah dari desa ini ke Mexico City supaya perusahaan Bapak nanti bisa lebih maju”
“Hmm, berapa lama kira-kira bisa sampai seperti itu, senor?”
“Ya kira-kira 15 – 20 tahun, pak”
“Lalu, setelah itu apa lagi, senor?”
Si bankir tertawa kecil dan berkata, “Nah ini bagian yang paling bagus, pak. Ketika perusahaan Bapak sudah makin besar, maka Bapak bisa menawarkan perusahaan Bapak ke pasar saham. Nanti perusahaan Bapak akan menjadi perusahaan terbuka dan jutaan peso akan mengalir ke kantong Bapak!”
“Jutaan peso? Lalu, setelah itu saya bisa apa lagi, senor?”
Si bankir pun menjawab, “Ya setelah itu Bapak bisa pensiun. Bapak bisa pindah ke sebuah desa, di mana nanti Bapak bisa hidup dengan tenang dan santai, bisa bangun agak siang. Bisa bercengkerama dengan anak dan istri setiap hari. Nongkrong di warung setiap sore untuk minum-minum dan bermain gitar dengan teman-teman Bapak.”
Si nelayan pun hanya tersenyum lebar mendengar penjelasan si bankir tadi.
Kemarin, sembari membersihkan dan merapikan kantor, saya membayangkan seandainya hidup saya ini makin tidak tergantung dengan kertas dan tidak diborbamdir dengan berbagai macam surat atau dokumen atau majalah yang terus berdatangan. Setelah hari demi hari berlalu, pada akhirnya mereka hanya menjadi tumpukan kertas yang berdebu dan teronggok di pojok ruangan nyaris tak pernah tersentuh lagi.
Rasanya di jaman yang serba digital ini pilihan untuk makin mengurangi ketergantungan terhadap kertas adalah sesuatu yang harus mulai dipraktekkan. Selain (katanya) turut andil dalam melestarikan lingkungan, pengurangan penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari akan membuat kantor atau rumah kita lebih rapi, dan bahkan bisa membuat hidup ini sedikit lebih bahagia lho. Enggak percaya? Coba deh pandangi tumpukan kertas maupun kertas-kertas yang berserakan di sekitar kita. Pasti bikin stress, kan?
Kira-kira hal konkret apa saja yang bisa kita lakukan untuk mulai mengurangi ketergantungan kita terhadap penggunaan kertas? Saya coba tulis beberapa yang ada di pikiran saya:
Saya menghabiskan 40 jam atau 5 hari dalam seminggu di kantor. Terkadang bahkan lebih lama daripada itu. Tapi kantor saya – yang terdiri atas sebuah meja tulis, meja komputer dan sebuah lemari kecil – selalu berantakan.
Tumpukan kertas atau dokumen-dokumen berserakan di atas meja dan lemari. Belum lagi majalah, buku dan berbagai macam surat atau tagihan. Itu masih ditambah dengan 2 buah dus seukuran dus rokok yang teronggok di ujung ruangan, yang isinya pun jarang sekali saya tengok. Intinya ruangan kantor saya itu bukanlah tempat yang rapi dan bisa dibanggakan.
Nah, tadi pagi sepulang dari sarapan bubur, saya khusus datang ke kantor dengan niat yang sangat mulia: membersihkan dan merapikan kantor.
Sebelum mulai membereskan barang-barang yang ada, saya sempet tertegun beberapa saat karena bingung harus mulai dari mana. Penampakannya seperti ini:
Saya pernah menulis tentang cara menyusun goal dengan mudah dan tepat. Nah, sekarang saya ingin mencoba berbagi apa saja keuntungannya apabila kita bisa membuat goal-goal yang lebih kecil dalam meraih suatu tujuan atau goal yang lebih besar.
Saya ambil sebuah ilustrasi saja. Misalnya goal besar Anda adalah mempunyai sebuah toko sablon pada akhir tahun ini. Untuk itu, maka cobalah buat goal-goal yang lebih kecil dan lebih detail, namun tetap mendukung tercapainya goal utama tadi.
Contoh goal kecilnya mungkin adalah Anda harus bisa mengumpulkan modal sebanyak 100 juta dalam waktu 3 bulan ke depan. Atau mungkin Anda harus mempunyai alat-alat sablon sebanyak sekian buah dalam waktu 4 bulan. Atau bisa juga Anda berharap bisa mempunyai minimal 3 supplier bahan-bahan kaos sebelum bulan puasa tahun ini. Dan lain-lain sebagainya.
Goal-goal kecil tersebut lantas bisa dipecah lagi menjadi rencana-rencana tindakan yang lebih nyata dan makin bisa diukur pencapaiannya.
Kenapa kita perlu memecah sebuah goal atau tujuan utama menjadi lebih kecil? Karena goal yang lebih kecil mempunyai beberapa keuntungan buat kita yang akan melaksanakannya, antara lain adalah:
Ada lagi yang ingin menambahkan?
Singkat kata, cobalah untuk memecah goal-goal besar Anda menjadi goal-goal yang lebih kecil dan lebih mudah untuk dilaksanakan. Mudah-mudahan semua cita-cita Anda akan tercapai. Amin.
Thumbnail diambil dari sini.
Kemarin malam, seperti biasa setiap hari minggu saya melakukan review terhadap goal-goal saya untuk melihat apakah ada yang sudah tercapai, ada yang sedikit lagi akan selesai, atau ada goal yang stucked alias jalan di tempat. Nah, ternyata ada satu goal yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda sudah dimulai prosesnya, yaitu cita-cita saya untuk bisa selalu bangun pagi sebelum azan subuh dikumandangkan selama minimal 30 hari berturut-turut.
Mengapa bangun sepagi itu demikian penting bagi saya? Iya, saya merasa bangun pagi apalagi sebelum azan subuh sangat banyak sekali manfaatnya. Beberapa yang bisa saya sebut di sini, misalnya: jadi bisa sholat subuh pada waktunya, bisa lari pagi, bisa menyiapkan sarapan terlebih dahulu (apalagi dengan kondisi saya sekarang sebagai bujang lokal), bisa internetan dulu…hehehe. Dan lain-lain sebagainya.
Oh iya, satu lagi: bisa datang ke kantor lebih awal alias tidak telat lagi. Hahaha.
Oke, kembali ke laptop. Saya lantas berpikir mungkin saya perlu menggunakan cara yang sama dengan apa yang saya lakukan dengan goal-goal saya yang lain. Seperti misalnya goal saya untuk bisa berlari non-stop sejauh 5 kilometer sebelum tanggal 1 Mei 2010. Sudah hampir sebulan terakhir ini saya rutin berlari pagi atau sore, 5 hari dalam seminggu, dengan jarak tempuh yang setahap demi setahap makin mendekati 5 kilometer. Dan setiap aktivitas lari tersebut saya publikasikan lewat Twitter ataupun Facebook menggunakan aplikasi iPhone, RunKeeper.
Intinya, saya umumkan kepada dunia kalau saya sedang dalam proses menggapai goal saya tersebut. Alhamdulillah, sejauh ini hasilnya tak mengecewakan dan mudah-mudahan target saya bisa tercapai. Amin.
Singkat kata, singkat cerita aku dan dia jatuh cinta mulai besok saya juga akan mempublikasikan proses saya dalam mencapai goal bisa bangun pagi sebelum azan subuh selama 30 hari ke depan. Caranya? Ya, setiap pagi sesaat setelah bangun tidur, saya harus ‘berkicau’ melalui akun Twitter saya untuk menandakan bahwa saya sudah bangun sebelum azan subuh dan tidak akan tidur lagi. Kalau sampai lewat satu hari saja saya terlambat bangun, maka perhitungannya akan reset to zero! Gimana, fair?
Doakan saya!
Thumbnail diambil dari sini.
Rasanya tidak berlebihan kalau dalam buku ini disebutkan bahwa duet SBY – JK adalah pasangan Presiden & Wapres RI terbaik yang pernah ada. Pak SBY adalah tipe pemikir, sangat hati-hati dalam bertindak, selalu berpandangan jauh ke depan dan sangat akademis. Sedangkan pak Jusuf Kalla, dengan latar belakangnya sebagai saudagar terkemuka di negeri ini, adalah orang yang cepat dalam berpikir dan bertindak, pragmatis, jago dalam hitung-hitungan, berani, cekatan dan dapat diandalkan.
Singkat kata, SBY itu orangnya strategis, pak JK taktis. Pak SBY menghadapi masalah secara mendalam, pak JK menyelesaikan masalah secara cepat, get things done. Dan kombinasi dari kedua orang hebat ini adalah pasangan yang luar biasa. Banyak yang berpendapat bahwa mereka adalah pasangan pemimpin yang sebenarnya masih dibutuhkan oleh republik ini dalam beberapa tahun ke depan. Tak heran banyak kalangan yang menyayangkan tatkala pasangan ini harus ‘bercerai’ pada pilpres tahun 2009 yang lalu.
Buku Mereka Bicara JK adalah kumpulan cerita, pengalaman, pendapat dan pandangan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan JK selama beliau berkiprah di dalam maupun di luar pemerintahan. Ada sekitar 60 orang dari berbagai kalangan yang turut sumbang kisah dan tulisan dalam buku ini, mulai dari para menteri atau mantan menteri, pejabat negara, birokrat, wartawan, tentara hingga pengusaha.
Mereka yang pernah bekerja dengan JK semasa beliau menjadi Wapres kebanyakan berbicara tentang bagaimana JK sukses memfasilitasi proses perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon. Sesuatu yang menurut saya sangat monumental dan JK pantas sekali diberi penghargaan yang setinggi-tingginya atas inisiatif dan kepemimpinannya dalam proses-proses perdamaian tersebut.
Sekarang saya sedang berstatus sebagai bujang lokal karena anak dan istri saya sedang ‘diungsikan‘ sementara ke Balikpapan, ke rumah mertua. Bukan karena Pekanbaru sedang kebanjiran lho ya, tapi karena rencananya istri saya akan melahirkan di Balikpapan, insya Allah akhir bulan Mei nanti.
Untuk urusan makanan, karena sudah tak ada lagi yang memasak di rumah, saya harus memesan katering atau membeli makan di rumah makan, khususnya untuk makan siang dan makan malam. Kalau untuk sarapan, selama seminggu ini saya bisa bertahan dengan setangkap roti tawar atau makan indomie di kantin kantor.
Nah, ngomong-ngomong tentang makanan, saya jadi berpikir alangkah serunya kalau sekali-kali saya masak sendiri di rumah. Kan banyak tuh resep-resep untuk sarapan atau makanan-makanan kecil yang simpel, mudah dan cepat. Hehehe…Saya jadi ingat dulu sempat posting tentang cara membuat Crepes Strawberry di blog lama saya dan resepnya saya dapat dari sebuah acara kuliner di televisi.
Ini saya copy – paste saja dari blog lama saya ya (blog lama saya sudah tidak aktif):
Resep yang satu ini saya contek dari sebuah acara masak-memasak di alam terbuka yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Saya tidak hafal judul acaranya dan nama masakannya. Yang jelas resep ini gampang dibuat dan rasanya cukup nikmat. Anggap saja nama hidangan ini adalah Crepes Strawberry.
Bekerja keras untuk mendapatkan uang, sudah. Mengurangi pengeluaran sehari-hari, sudah. Tapi kok balance keuangan si Bedu tetap tipis ya? Mana bisa menabung kalau begini caranya?
Oh, ternyata si Bedu masih mempunyai beberapa hutang atau pinjaman yang cicilan dan bunganya harus dibayarkan setiap bulan. Ada cicilan kartu kredit, kredit mobil, pinjaman untuk kuliah S-2, dan sebagainya. Dan ini sangat menguras pendapatan Bedu setiap bulannya. Duh, kasihan.
Salah satu cara untuk menyehatkan keuangan pribadinya, Bedu harus berjuang untuk ‘melenyapkan‘ pinjaman-pinjaman tersebut. Dengan begitu pendapatannya tidak akan tersedot untuk membayar cicilan-cicilan beserta bunganya itu. Dan dia akan mempunyai uang lebih untuk ditabung atau dipergunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.
Perkaranya sekarang, bagaimana cara membayar lunas semua pinjaman-pinjaman tersebut? Ya dibayarnya pakai uang juga dong, masa pakai daun. Hehehe…
Ada beberapa metode ampuh yang bisa dicoba untuk mengeliminasi pinjaman-pinjaman tersebut hingga lunas dan tuntas. Saya mengambilnya dari berbagai sumber di internet.
Ada sebuah artikel yang paling menarik perhatian saya pada majalah Macworld Indonesia edisi April 2010, judulnya Apple’s Constant Iterations, ditulis oleh John Gruber. Isinya tentang bagaimana para desainer dan engineer di Apple bekerja dan bagaimana produk-produk keluaran Apple dibangun dengan suatu proses perbaikan yang konstan.
Digambarkan bahwa mereka (para pekerja di Apple) memulainya dari sesuatu yang kecil dan sederhana namun dirancang dengan penuh perhitungan. Tak banyak fitur yang dikerjakan selain fitur-fitur yang membentuk produk inti minimum yang nantinya akan dipoles secara terus menerus.
John mengambil beberapa contoh dan salah satunya adalah iPhone. Tahun 2007, ketika iPhone diperkenalkan, Apple belum membuka App Store, smartphone itu belum mendukung jaringan 3G, kapasitas penyimpanan hanya 8GB. Setahun berikutnya, iPhone diberi prosesor yang lebih cepat, mendukung jaringan 3G dan mempunyai kapasitas penyimpanan yang lebih besar. Lalu, para penggunanya sudah bisa menikmati ribuan aplikasi dari App Store.
Apa saja yang sudah saya lakukan selama bulan Maret di tahun 2010 ini?
Enggak banyak sih. Tapi saya berhasil menyelesaikan sebuah tantangan terhadap diri sendiri untuk mengurangi kepemilikan atas beberapa barang-barang pribadi dan menyumbangkan barang-barang tersebut kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Tantangan tersebut saya sebut sebagai tantangan minimalis.
Saya berhasil membaca 3 buah buku selama bulan Maret ini seperti yang sudah saya canangkan sebelumnya. Daftar buku bisa dilihat di halaman buku saya. Saya juga memulai membuat halaman khusus untuk menampung goal-goal saya, baik yang jangka panjang maupun jangka pendek.
Pada bulan Maret ini pula, saya sudah menyumbangkan sebagian besar buku dan majalah yang kami miliki ke sebuah perpustakaan di kota kami. Mudah-mudahan bermanfaat.
Yang paling membuat saya excited adalah goal untuk berlari sejauh 5 kilometer. Untuk itu, saya sudah memulainya secara bertahap dengan rutin berlari pagi atau sore selama 5 hari dalam seminggu. Jarak terjauh yang mampu saya capai sekarang baru sekitar 2.6 kilometer dan saya masih punya waktu sebulan untuk mencapai target 5 kilometer. Doakan saya!
Giyaaaah! Baru sempat update blog lagi nih setelah lebih dari seminggu saya cuti – ke Jakarta, Jogja dan Balikpapan – dan tak menemui akses internet yang layak. So, here I am again, guys.
Posting pertama yang sudah ada di benak saya selama cuti kemarin adalah tantangan minimalis untuk minggu terakhir. Sebelum cuti, saya sudah menentukan barang-barang apa saja yang saya pilah untuk tantangan ini. Jumlah barang untuk minggu terakhir ini juga paling banyak dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya karena saya menggenapkan sekalian hingga akhir bulan (tanggal 31 Maret), sehingga totalnya ada 10 item.
Tanpa basa-basi, cekidot gan!
Senin, 22 Maret 2010. Jaket tebal warna hitam. Well, ternyata saya punya banyak jaket ya. Dan sebagian besar jarang sekali saya pakai, termasuk jaket yang satu ini. Sumpah, bahannya bagus dan tebal. Modelnya pun oke punya. Tapi setelah saya timbang-timbang, mungkin akan lebih oke lagi kalau saya sumbangkan saja kepada yang lebih membutuhkan.
Malam ini saya dan istri saya baru saja selesai mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan kami besok pagi. Yap, kami akan terbang ke Jakarta esok pagi, kemudian ke Jogja dua hari kemudian dan terakhir ke Balikpapan pada tanggal 31 Maret nanti. Untuk perjalanan ini saya sudah mengambil cuti hingga tanggal 4 April lho. Yihaaa!
Salah satu hal yang tadi saya lakukan adalah menata ulang dokumen-dokumen penting seperti passport, akta kelahiran, polis asuransi, ijazah dan lain-lain sebagainya. Ya gara-gara ngubek-ngubek isi tas tempat penyimpanan dokumen untuk mencari passport, saya lantas berpikir kenapa tidak sekalian membereskan kembali semua dokumen-dokumen yang kami punyai.
Semua isi tas tersebut langsung saya keluarkan, termasuk di dalamnya ada sebuah binder dan beberapa buah map. Saya tumpuk semuanya di lantai dan mulai saya sortir satu per satu. Dokumen yang sangat penting dan masih digunakan saya tumpuk menjadi satu kelompok, sedangkan dokumen atau kertas-kertas yang sudah tidak bermanfaat lagi saya kumpulkan di kelompok yang lain.
Setelah semuanya selesai disortir, ternyata jumlah dokumen yang sudah tidak diperlukan lagi lebih banyak daripada dokumen-dokumen penting yang masih saya perlukan! Jadi selama ini saya menyimpan lebih banyak sampah daripada dokumen-dokumen yang benar-benar berharga.
Lantas saya mengambil beberapa dokumen atau surat penting yang perlu dibuatkan salinannya. Mereka antara lain adalah:
Sebulan yang lalu, saya menjalani pemeriksaan kesehatan rutin dari perusahaan. Alhamdulillah, hasilnya secara keseluruhan masih bagus alias sehat. Tapi ada satu catatan penting yang disampaikan oleh si dokter waktu sesi konsultasi kesehatan, yaitu tingkat kolestrol saya yang cukup tinggi, di atas ambang batas normal. Kalau tidak salah angkanya mencapai 240-an, padahal batas normalnya sekitar 200.
Pak dokter tersebut kemudian menganjurkan saya untuk mengatur makanan dan berolahraga secara teratur agar kolestrol saya bisa turun kembali ke dalam ambang batas yang normal. Saat itu saya merasa kedua anjuran tersebut agak susah untuk dipenuhi. Kenapa? Karena saya hobi makan enak dan malas berolahraga.
Tapi sekarang saya sudah mulai coba-coba membatasi dan mengatur apa yang saya makan kok. Belum menggunakan program diet atau pantangan tertentu sih, tapi kalau ada makanan yang tinggi kandungan kolestrolnya, ya saya coba untuk membatasi diri saja.
Nah, kalau untuk olahraga, saya sudah memutuskan untuk menjadikan jogging sebagai olahraga rutin saya. Kenapa jogging? Ya, karena ini adalah olahraga yang simpel, enggak ribet, relatif murah dan bisa dilakukan kapan saja. Jadi, enggak perlu banyak usaha untuk memulainya.
Dan karena saya ingin jogging ini menjadi sebuah habit, maka saya terapkan salah satu jurus ampuh untuk membentuk sebuah habit, yaitu menginformasikan kegiatan jogging saya ini kepada seluruh dunia lewat blog ini. Caranya adalah:
Tak terasa tantangan minimalis yang saya canangkan ini sudah masuk minggu ketiga. Benar-benar terasa makin susah lho untuk memilih dan memilah barang-barang yang jadi target tantangan minimalis ini. Mungkin karena barang-barang pribadi saya juga makin menipis ya.
Kalau untuk minggu pertama dan minggu kedua barang-barang pilihan saya kebanyakan datang dari kelompok pakaian, untuk minggu ketiga ini justru tak ada barang terpilih yang berupa pakaian. Oke, langsung saja kita lihat sama-sama barang apa saja yang ‘beruntung’ bisa mejeng di blog ini karena terpilih dalam tantangan minimalis minggu ketiga! *jeng jeng jeng*
Senin, 15 Maret 2010. Kamera Lomo Holga warna merah. Saya sebenarnya masih saya dengan kamera lomo ini karena unik dan keren tongkrongannya. Tapi, kamera ini lebih banyak menganggurnya karena format film yang digunakan adalah format 120 yang tidak dijual di sembarang toko kamera atau film. Jadi, saya harus mencarinya di sebuah toko khusus di Jakarta. Untuk melihat hasilnya pun harus dicuci terlebih dahulu dan tidak semua tempat cuci cetak foto mau atau bisa melakukannya. Alhasil, walaupun dengan berat hati, saya putuskan untuk menyumbangkan kamera lomo ini kepada orang lain yang mungkin lebih telaten dalam memakai dan merawatnya. Goodbye, my red holga.
Membentuk suatu habit atau kebiasaan yang baik sering tidak mudah. Apalagi kalau habit tersebut merupakan ‘barang’ baru dalam kehidupan kita.
Sebagai contoh, saya ingin memulai habit baru: berolahraga lari atau bersepeda secara rutin. Wah, memulainya itu lho berat sekali. Selama ini saya lebih suka duduk-duduk di depan komputer, atau bermalas-malasan sambil menonton televisi, ketimbang harus bersimbah peluh dan ngos-ngosan.
Ketika akhirnya saya bisa memulainya, mempertahankan kegiatan tersebut agar menjadi habit juga menjadi tantangan tersendiri. Seringkali baru dicoba seminggu dua minggu, kemudian suatu kegiatan menjadi terhenti karena saya tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk terus melakukannya hingga kegiatan ini berubah menjadi sebuah habit. Padahal, menurut banyak blog produktivitas yang saya baca, untuk mengubah suatu kegiatan menjadi sebuah habit, maka lakukanlah kegiatan tersebut minimal selama 30 hari terus menerus.
So, untuk membentuk sebuah habit (yang baik), ada 2 proses besar yang harus dilewati: memulainya dan membentuknya menjadi sebuah habit.
Tapi, bukan berarti kedua proses tersebut berat dan enggak bisa dilewati ya. Asal kita punya alasan yang cukup kuat untuk melakukannya, insya Allah kita semua bisa menjalani sebuah kegiatan secara konsisten hingga menjadi sebuah habit yang positif.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu kita membentuk sebuah habit.
Beberapa blog tentang simplicity dan productivity menyarankan supaya kita meminimalkan frekuensi meeting. Kenapa? Karena meeting yang terlalu sering akan menyedot waktu kita yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mengerjakan hal-hal lain.
Saya sendiri tidak setuju 100% dengan saran untuk meminimalkan frekuensi meeting tersebut, karena bagi sebagian profesi atau pekerjaan, meeting adalah salah satu bagian dari pekerjaan. Bahkan tak jarang menjadi core activity dari suatu jabatan. Lha terus kalau disuruh meminimalkan meeting, trus kerjanya apa dong? Tak sedikit orang yang menghabiskan waktunya seharian penuh dengan menghadiri satu meeting ke meeting yang lain.
Dari meeting-meeting itulah lahir keputusan-keputusan penting, strategi dimatangkan, problem-problem dipecahkan dan kebijakan dibuat. Jadi, sebenarnya bukan kuantitasnya yang harus diminimalkan, melainkan meeting-nya itu sendiri yang perlu dibuat menjadi lebih efektif dan terfokus.
Pekerjaan saya sendiri kebetulan tak terlalu membutuhkan banyak meeting. Saya lebih banyak bekerja di depan komputer. Tapi, ketika datang waktunya untuk meeting, mau tidak mau saya harus meninggalkan pekerjaan saya untuk sementara.
Untuk itu, saya ingin share beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menyiasati meeting yang kita hadiri sebagai peserta meeting agar bisa lebih efektif karena biasanya masih ada tugas lain yang mesti kita selesaikan juga. Sekali lagi saya garis bawahi tips berikut adalah kalau kita datang sebagai salah satu peserta meeting, bukan sebagai organizer meeting, moderator ataupun meeting leader.
Para backpacker ataupun pembaca setia blog The Naked Traveler, pasti sudah merasa tidak asing lagi dengan si Trinity – seorang perempuan Indonesia yang gila jalan-jalan sekaligus handal dalam menuliskan kembali pengalaman-pengalamannya selama berpetualang berlibur ke banyak tempat. Ceritanya seru-seru sehingga tak heran kalau sampai detik ini, sudah 2 buku diterbitkan dengan judul yang sama dengan blog-nya: The Naked Traveler (dan The Naked Traveler 2) dan keduanya berhasil menjadi bestseller nasional. :D
Ketika blog ini baru muncul tahun 2005, saya cukup rajin mengikuti posting-postingnya. Tapi, setelah itu saya tak pernah lagi menyambanginya hingga minggu lalu ketika saya membeli buku pertama The Naked Traveler yang terpampang bersama buku keduanya di kelompok buku-buku bestseller di Gramedia. Saya pikir lumayan juga buat bekal perjalanan Pekanbaru – Jakarta akhir pekan yang lalu.
Si penulis sangat piawai dalam menceritakan pengalaman-pengalamannya berlibur dan menjelajahi berbagai macam tempat, baik domestik maupun mancanegara. Tak hanya seru, tapi juga kocak dan sangat menghibur. Saya jadi ingin bisa pergi berlibur juga dan bisa menjelajahi 42 negara seperti yang sudah dialami oleh si penulis. Wow, pasti menyenangkan!
Buku ini dibagi atas beberapa bagian, yang tiap bagiannya terdiri atas beberapa cerita pendek yang menarik. Ada bagian yang berisi tentang cerita-cerita yang berhubungan dengan Airport, Alat Transportasi, Tips, dan sebagainya. Semuanya diramu dengan rangkaian kata dan kalimat yang ringan, mengalir dan kadang menggelikan.
Misalnya kisah tentang Eksotisnya Pohon Pisang ini:
Belum kapok juga, tahun 2001 saya ikutan tur di Puerto Rico. Kami semua naik bis dan berkeliling tempat wisata di sana, mulai dari melihat benteng bersejarah, berenang di pantai Luquillo, sampai ke trekking di Caribbean National Forest. Di tengah jalan, tiba-tiba bis berhenti di belakang halaman rumah orang. Saya bingung, tidak melihat ada objek wisata apa-apa yang menarik. Lalu, si Tour Guide mengatakan, “Now Ladies and Gentlemen, this is…banana tree!” sambil menunjuk sebuah pohon pisang!
Hah? Tololnya, semua orang turun dari bis dan berebutan memotret. Si Guide sampai terheran-heran karena saya tidak turun dan bertanya mengapa saya tidak mau foto-foto. Dengan malasnya saya menjawab, “Not interested. I have many of them, in my own backyard!“.
Tak terasa tantangan yang saya buat ini sudah memasuki minggu kedua.
Apakah terasa makin berat? Ya well, belum terlalu berat sih, tapi memang sedikit makin menantang. Perasaan ‘sayang‘ makin menguat. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi kalau barang-barang tersebut sudah jarang dipakai (tapi bukan berarti sudah tidak layak pakai lho ya?), akhirnya saya bisa legowo melepas beberapa item lagi untuk minggu ini.
Sama seperti tantangan minggu pertama, barang-barang untuk minggu kedua ini juga kebanyakan datang dari kelompok pakaian. Mungkin karena diantara barang-barang milik saya, yang paling banyak jumlahnya ya dari kelompok sandang.
Okelah kalo begitu. Mari kita lihat daftar minggu kedua.
Senin, 8 Maret 2010. Kemeja kotak-kotak lengan pendek. Kemeja ini tidak dibeli ditoko, melainkan hasil pesanan ke tukang jahit. Bahannya waktu itu dibeli oleh istri saya di Jakarta lalu dijahit di Pekanbaru. Sebenarnya bahannya cukup nyaman, namun setelah dicoba ‘jatuhnya‘ kok kurang pas di badan saya. Akibatnya kemeja ini jarang dipakai.
Well, semua orang pasti punya goal atau tujuan dalam hidupnya. Buat saya, ultimate goal itu adalah ketika muda sukses dan kaya raya, ketika tua bahagia dan dicintai banyak orang dan ketika mati khusnul khatimah dan masuk surga. Saya yakin Anda pun punya cita-cita yang kurang lebih sama, kan?
Nah, untuk itu kita perlu menentukan beberapa tujuan atau goal pendukung yang akan membawa kita mewujudkan the ultimate goal. Untuk lebih mudah, saya bagi saja tujuan pendukung tersebut menjadi tujuan jangka pendek (short term goal) dan tujuan jangka panjang (long term goal).
Tujuan jangka pendek atau short term goal biasanya ditargetkan akan dicapai dalam hitungan minggu atau bulan. Apabila dijadikan sebagai sebuah rutinitas dan dilakukan secara konsisten, maka short term goal ini bisa menjadi sebuah habit. Contohnya: berlari keliling kompleks setiap pagi selama 30 hari berturut-turut. Apabila sudah sukses bisa lari pagi selama 30 hari, bukan berarti lantas tidak lari keliling kompleks lagi, kan? Goal ini masih bisa diteruskan dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang positif.
Tujuan jangka panjang biasanya membutuhkan waktu hingga tahunan serta effort yang lebih besar untuk mencapainya. Tujuan-tujuan jangka panjang biasanya bisa diwujudkan dengan pencapaian-pencapaian atas beberapa tujuan jangka pendek.
Banyak kiat dalam menyusun goal atau tujuan hidup, tapi saya coba share bagaimana cara saya sendiri dalam menyusun beberapa goals melalui blog ini.
Begini langkah-langkahnya: